Minggu, 19 Mei 2013

Naiknya Aku Ke Atas Panggung Sandiwara Itu

Di tengah banyak orang, semua mata memandang dengan pandangan yang penuh pertanyaan. Aku berdiri disana, di atas panggung yang tinggi. Terlihat dari sana pandangan-pandangan yang menampar pipiku, kebanyakannya gadis-gadis cantik, mereka memandang, terkadang mereka berteriak seraya menepukan kedua telapak tangannya, kedengaran sangat mengharukan, membakar mtivasi. Namun, disaat itu pula rasa malupun datang menghampiri, menyapa suasana hati yang kebetulan saat itu belum fit.

Di atas panggung merah itu, yang tersusun dari bangku-bangku, aku melangkahkan kaki dengan kaku sedangkan para penonton sudah mulai penasaran, mereka mungkin bertanya-tanya tentang apa yang akan aku lakukan. Namun sebagian dari mereka ada yang sudah faham dengan apa yang aku lakukan. Meskipun demikian suasana semakin hangat sehingga tidak terasa keringat bercucuran menahan rasa malu.

Hati merasakan malu, malu oleh semua hadirin, hadirin yang datang semanya remaja, semuanya masih merasakan kerjanya, mereka laki-laki dan perempuan namun perempun lebih banyak dibandingkan laki-laki, jumlah laki-laki tidak nyampai 50% nya saja. Semakin membuat aku gugup dan merah. Tapi tidak apalah karena semua yang aku lakukan bertujuan baik. 

Sengaja aku beraksi dengan maksud memberikan pemahaman kepada mereka, agar mereka berfikir. Agar mereka mengerti dengan arti nilai loyalitas sosial, agar mereka faham dengan nilai sebuah solideritas. Semuanya aku lakukan supaya mereka mementingkan dan memperhatikan kebiasaan saling menghormati dan menghargai. Itulah yang menjadi latar belakang naiknya aku ke atas panggung sandiwara itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar